Rabu, 02 November 2011

Melamun dan Bisnis



Tiada hari tanpa melamun. Itulah yang terjadi pada setiap manusia di bumi ini. Apakah itu melamunkan suatu kejadian yang telah berlangsung, masalah pribadi, masalah pekerjaan, masalah keluarga, masalah politik, masalah nasib, masalah ekonomi dsb. Bisa melamunkan hal-hal positif dan bisa juga negative. Tentunya fokus dan bobot yang dilamunkan oleh setiap orang akan berbeda sesuai dengan status sosialnya. Politikus melamun tentang bagaimana memenangkan pemilu, dokter melamun tentang cara-cara pengobatan, dosen atau peneliti melamun tentang metodologi penelitian, militer melamun tentang peperangan dan perdamaian, polisi melamun tentang tertib masyarakat, pebisnis melamun tentang keuntungan dan ekspansi perusahaan, orangtua melamun tentang kesejahteraan keluarga, anak muda melamun tentang cita-cita masa depan atau tentang pacarnya, dsb. Ada kecenderungan semakin banyak masalah yang dihadapi seseorang semakin banyak melamun. Kalau sudah begitu dengan lamunannya,seseorang terkadang tidak sadar ada orang lain yang menegurnya. Semacam sementara waktu kehilangan kendali akan keadaan dirinya.

Apakah melamun itu perbuatan negatif? Ya bisa jadi seperti itu kalau melamun dipandang sebagai pekerjaan yang sia-sia atau perilaku malas. Padahal dalam prakteknya kebanyakan tidak seperti itu. Seorang peneliti menghasilkan temuan mutakhir diawali dari melamun atau menghayal. Seorang dosen mampu membuat buku-buku ilmiah juga didasarkan pada lamunannya. Seorang pebisnis menemukan suatu komoditi yang layak pasar ketika dia selesai melamun tentang ekspansi bisnis masa depan. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya betapa melamun potensial sebagai salah satu sentra kreatifitas. Hasil studi Kalina Christoff, ketua tim penelitian,, ahli psikologi dari University of British Columbia (UBC) menunjukkan otak akan bekerja aktif pada saat seseorang melamun. Bahkan lebih aktif dibandingkan pada saat kita fokus mengerjakan pekerjaan rutin,” katanya. Selanjutnya dia mengungkapkan, pada saat melamun, kita tidak bisa segera mencapai apa yang diinginkan. Namun pikiran kita akan memanfaatkan saat itu untuk menyampaikan pertanyaan terpenting dalam hidup kita.

Bagaimana melamun di dunia bisnis? Pada prinsipnya sama saja dengan di dunia non-bisnis. Misalnya bagaimana perusahaan tertentu dilamunkan oleh segenap unsur manajemen dan bahkan oleh semua karyawannya bahwa akan mampu menjadi bisnis yang bersaing di tengah-tengah era global. Lamunannya atau semacam mimpi/cita-cita itu lalu dibahas dalam suatu rapat manajemen. Disitu disusun langkah-langkah perencanaan strategis dan operasional yang matang. Kemudian disosialisasikan ke seluruh unsur perusahaan. Semua sumberdaya disiapkan dengan terencana dan solid. Dan mulailah bergerak untuk memenuhi lamunannya.

Lamunan bisa berbentuk hal-hal yang tak masuk di akal, konyol dan dekat dengan sesuatu yang “gila”. Namun dengan lamunan, gagasan aneh seperti itu diolah dan bisa berubah menjadi sesuatu yang diakui khalayak luas dan tak terduga nilainya. Syaratnya adalah harus dilakukan dalam kondisi rileks. Dengan kata lain gagasan cemerlang tidak mungkin diperoleh ketika suasana hati sedang tegang. Mengapa? Karena ketegangan akan menimbulkan kondisi otak tidak dalam keadaan nyaman dan gagal bekerja secara optimum untuk menghasilkan ide-ide cemerlang dan orisinil. Karena itu banyak hal yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan sesuatu yang baru dengan cara melamun dalam suasana santai. Entah ketika masa reses pekerjaan, berlibur, menjelang tidur, dan bahkan di kamar mandi.

SUMBER





tinggalkan pesan

Keluhan Yang Sering Terlontar Saat Lembur



Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, itu artinya 30 menit lagi kita akan meninggalkan tempat kerja dengan segala kepenatannya. Di tengah rasa senang yang bergelora dalam dada, tiba-tiba datanglah setumpukan kertas yang dibawa oleh atasan kita. Lalu dengan manis dia berkata : “Jangan ngelamun! Ini ada lagi dari klien, selesaikan hari ini yah!”. Oh No! Seketika harapan untuk pulang tepat waktu pun sirna karena harus lembur.

Tidak hanya di Indonesia, di belahan dunia manapun lembur selalu menjadi momok bagi para karyawan. Wajah cemberut dengan seketika dan bukan hanya wajah yang bersungut-sungut, tak jarang mereka juga mengeluarkan keluhan-keluhan sambil melakukan pekerjaan. Kira-kira keluhan apa saja yang sering dilontarkan oleh karyawan saat lembur? Berikut ini adalah beberapa keluhan yang sering dilontarkan oleh karyawan saat lembur :

1.Gaji Tambahan
Tidak semua perusahaan mau menyediakan uang tambahan untuk karyawannya yang lembur. Alasannya bermacam-macam, mulai dari keuangan yang tidak memungkinkan sampai alasan birokrasi. Banyak karyawan yang kemudian mengeluh karena meskipun sering lembur, tetapi gaji tidak berubah.

2.Waktu Istirahat yang Kurang
Dalam waktu normal, rata-rata karyawan bekerja di kantor selama 8 jam. Jika ditambah dengan waktu lembur yang rata-rata memakan waktu 2 jam, maka seorang karyawan yang sedang lembur akan memakan waktu 10 jam di kantor. Belum lagi keadaan lalu lintas yang selalu macet dan bisa memakan waktu sampai 2 jam di setiap perjalanannya. Itu tandanya seorang karyawan saat lembur hanya punya waktu istirahat selama kurang lebih 10 jam setiap harinya.

3.Stress yang Lebih Cepat Datang
Bukan hanya karyawan kantoran, bahkan tentara militer atau densus 88 juga dapat merasakan stres karena pekerjaan yang mereka lakukan. Entah seberapa rapi seorang karyawan menyembunyikan rasa letihnya, tetap saja di dalam benaknya tersimpan rasa stres mendalam yang terkadang datang lebih cepat dan lebih berat.


SUMBER





tinggalkan komentar

Lima Hal Yang Membuat Bangsa Jepang Maju



Negara ini pernah dua kali dibom oleh sekutu, terlibat konflik horizontal, dan diancam kelaparan, tapi puluhan tahun kemudian menjelma menjadi negara kuat di Asia, bahkan dunia. Apa rahasia yang membuat mereka bisa berkembang dengan sangat pesat?

Ada banyak faktor yang membuat bangsa Jepang lebih maju. Tentunya kita dapat mencontoh dan menerapkannya pada keseharian kita. Berikut ini adalah lima hal yang membuat bangsa Jepang maju :

1. Pekerja Keras

“Di dunia ini tidak ada orang yang gagal, yang ada hanyalah orang yang malas”. Mungkin itulah moto yang mereka jadikan pedoman dalam bekerja. Orang Jepang dikenal pekerja keras dan profesional. Mereka tidak mudah menyerah dalam mendapatkan sesuatu.
2. Tepat Waktu

Orang Jepang dikenal sangat tepat waktu. Bagi mereka waktu adalah hal yang paling berharga. Bagi mereka, menunda pekerjaan sama dengan menambah pekerjaan. Sebenarnya sama juga dengan pemahaman orang Indonesia, hanya saja orang Indonesia kurang dalam mengaplikasikannya.
3. Punya Rasa Malu

Siapa bilang rasa malu itu harus dihilangkan? Mau jadi apa bangsa ini kalau kita tidak punya rasa malu? Malu di sini bukanlah rasa malu untuk berkembang, tapi malu untuk meneruskan kesalahan. Orang Jepang yang merasa gagal, pasti merasa malu dan mengundurkan diri. Bahkan jaman perang dulu, jenderal perang yang gagal rela untuk bunuh diri sebagai upah kegagalannya.
4. Menjaga Tradisi

Orang Jepang bukanlah tipe orang yang lupa akan kulitnya. Secanggih apapun modernisasi dan teknologi, mereka selalu memasukkan tradisi bangsa mereka. Ini bukanlah sesuatu yang kuno, tapi justru bisa menjadi ciri khas dan karakter suatu bangsa. Jika bangsa kita saja tidak mempunyai karakter, bagaimana mau maju?
5. Punya Rasa Ingin Tahu Yang Tinggi

Orang Jepang selalu mempunyai motivasi tersendiri untuk mempelajari hal yang baru. Hal itu didukung pula oleh kebiasaan mereka yang rajin membaca dan terbuka pada pemikiran baru.

Jadi, apakah kita ingin mempertahankan sifat malas dan suka menunda-nunda pekerjaan kita, atau kita bisa bangkit seperti semangat negara Jepang itu? Life is a matter of choice. Silahkan pilih sendiri jalanmu.

SUMBER





tinggalkan komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites