Jumat, 18 November 2011

Junk Food Dapat Mengurangi Semangat Kerja?



Pernahkah Anda menikmati setumpuk roti yang diapit daging goreng dan sekumpulan sayuran ditambah saus sambal dan mayonaise? Ya, itulah burger, salah satu junk food yang khasiatnya tidak sebanding dengan rasanya, bahkan bisa merugikan.

Junk food memang tidak bisa dipungkiri memiliki rasa yang enak. Rasa gurih, pedas, manis yang tercampur menjadi satu tentu sangat menggoda selera, tapi tahukah Anda bahwa junk food ternyata bisa membuat Anda tidak bersemangat dalam bekerja?

Ada banyak faktor yang mendukung hal ini. Berikut ini adalah faktor-faktor kenapa junk food mempengaruhi semangat kerja:

1. Kalori yang tinggi

Kalori yang tinggi adalah sumber bertambahnya lemak dalam tubuh. Semakin banyak lemak, membuat Anda semakin malas bergerak.
2. Kenyang yang tidak sehat.

Mungkin makanan tersebut membuat Anda kenyang, namun bisa menyebabkan berbagai penyakit seperti diabetes, atau obesitas. Jika Anda mengalami kenyang seperti ini, sudah pasti rasa malas yang timbul bukan semangat.
3. Cepat Mengantuk

Mengkonsumsi banyak junk food juga bisa membuat Anda cepat mengantuk. Bayangkan jika Anda sering mengantuk saat jam kerja? Bagaimana mungkin pekerjaan Anda bisa selesai jika Anda terus mengantuk?
4. Mahal, dan rawan untuk diminta teman

Ya, rata-rata makanan fast food pasti memiliki harga yang diatas jatah makan siang kita. Jika Anda yang susah payah membeli makanan tersebut kemudian hanya habis oleh teman Anda, tentunya akan membuat mood Anda jadi berantakan. Imbasnya, Anda pun jadi malas untuk bekerja.


SUMBER



tinggalkan komentar

Suara Tuhan

Oleh Jansen Sinamo



"Anakku, kau belum lulus. Itu bukan suara Tuhan. Kau harus kembali ke pura dan kali ini bersungguh-sungguhlah agar mampu mendengarkan suara-Nya." Demikian perintah baginda dengan nada berat.

Putra mahkota hanya bisa terdiam lesu. Dengan lunglai ia pun kembali ke pura kerajaan di tepi hutan.

Sambil merenungkan bagaimana cara mendengar suara Tuhan, pikirannya melayang kembali pada amanat baginda minggu lalu. "Anakku, aku sudah tua. Sebentar lagi tiba saatnya aku lengser dari tahta dan bergabung dengan nenek moyang kita. Dan engkau akan duduk di singgasana ini menggantikan aku. Tetapi sebelum itu, ada satu lagi ujianlagi yang harus kau lalui."

"Ujian apa gerangan ayah ?" tanya pangeran dengan antusias.

"Pergilah ke pura kerajaan anakku. Tinggallah di sana beberapa lama dan dengarkanlah suara Tuhan. Kemudian laporkan kepadaku bagaimana sesungguhnya suara Tuhan."

Putra mahkota pun pergi ke pura. Ia menemukan sejumlah orang suci, begawan, dan pendeta beribadah di sana. Ada yang mendaraskan seloka-seloka suci, ada yang berdoa dalam hening, ada pula yang bersujud sembah tanpa kata. Semuanya mendekatkan diri pada Tuhan. Dan pangeran mengamati semuanya dengan saksama.

Tiga hari kemudian, putra mahkota kembali ke istana lalu melapor kepada raja. "Ayahanda, aku sudah berhasil mendengar suara Tuhan."

"Bagus ... bagus ... anakku," sambut raja. "Sekarang, ceritakanlah, seperti apakah suara Tuhan ?"

"Begini ayah, suara Tuhan itu amat syahdu, terasa indah, khidmat, dan menyentuh kalbu, rasanya bagaikan di serambi surga."

Perlahan-lahan raja menarik diri, bersandar di singgasana, dan menarik nafasnya dengan berat. Bahasa tubuhnya tegas mengatakan, itu bukan suara Tuhan. Dan baru saja ia disuruh kembali ke pura.

Kini, dia pergi kedua kalinya. Sebelum masuk, dia merenung, bertanya dalam hati, bagaimana cara Tuhan berbicara? Diambilnya tempat di sudut terluar, lalu duduk tertunduk, hening dalam sepi. Dia berusaha mendengarkan Tuhan. Namun tidak ada vokal apa pun. Tetapi dia meneguhkan hatinya. Dengan sungguh ia memohon agar Tuhan berkenan berbicara.

Waktu berlalu secepat kilat, entah berapa lama. Dalam teluh kebisuan dia tidak lagi menyadari keberadaan orang-orang maupun hiruk-pikuk di sekitarnya. Lebur luluh di kedalaman transendental itu - alam batin itu - mimpi terasa bagai kenyataan dan kenyataan bagaikan mimpi, mengalir tanpa kekangan ruang-waktu. Dengan bebas jiwanya melayang bolak-balik ke masa lalu, ke masa kini, ke masa depan, bolak balik. Dia menikmati lagi masa kecilnya, penuh kasih- sayang ayah ibunya. Terasa lagi lezatnya belajar bersama para pengasuh dan guru-gurunya yang sabar. Gurih, kala para ajudan dan pembantu istana mengajarinya naik kuda, berenang, dan berburu. Juga,karena kenakalan kanak-kanaknya, satu kali buaya hampir melibasnya, ular hampir mematoknya, dan berbagai kecelakaan nyaris merenggut nyawanya. Sampai tiba-tiba dia telah mendengar suara Tuhan: "Aku memelihara, menyayangi, dan mengasihimu putra-Ku; hendaklah engkau memelihara, menyayangi, dan mengasihi rakyatmu pula".

"Ayah, aku berhasil mendengar suara Tuhan", seru putra mahkota tatkala tiba di istana. "Suara Tuhan tidak kudengar di telingaku, melainkan di hatiku. Di dalam batinku Tuhan berbicara, kalau aku nanti menjadi raja, aku harus memerintah dengan bijaksana. Dia membukakan mataku akan tugas-tugasku sebagai raja: mengayomi wong cilik, menyantuni seluruh warga, dan memikirkan keperluan rakyat."

Wajah baginda terang dan bersinar. Semakin lama tubuh raja makin condong ke depan seolah-olah berkata: Aku ingin mendengar lebih banyak lagi !

Akhirnya berkatalah raja, "Anakku, kau lulus. Kau sudah berhasil mendengar suara Tuhan dan siap dilantik menjadi raja. Benar seperti tuturmu, suara Tuhan memang tidak kita dengar dengan gendang kuping, melainkan telinga batin. Kelak, ketika menjadi raja, engkau tidak boleh hanya mendengarkan laporan-laporan resmi para menterimu, panglimamu, hulubalangmu, atau pembisikmu. Tetapi kau harus turun sendiri ke dalam hati dan jiwa rakyatmu untuk menyimak suara-suara yang tidak terucapkan, aspirasi-aspirasi yang tidak terkemukakan, dan kerinduan-kerinduan yang tidak tersampaikan secara verbal- formal. Jika engkau melakukan semua itu, niscaya engkau menjadi raja yang dicintai rakyatmu."

Konon, sang raja dengan tenang mengundurkan diri--lengser keprabon madeg pandito-- dan menyerahkan tahta kepada anaknya. Raja baru ini menjadi seorang junjungan yang dicintai segenap rakyat dan ponggawa kerajaan.

*****

Pembaca yang budiman, kalau kita meneropong seluruh keberadaan kita di bawah mikroskop dan teleskop batin, sejak dari dalam kandungan hingga kini, menjelujuri seluruh titik-titik peristiwa dalam sejarah hidup kita, niscaya kita akan takjub sendiri karena keajaibannya, dan menjadi yakin bahwa Tuhan itu memang selalu menopang, menyantuni, mengayoni, dan memimpin kita. Imperatif moralnya, marilah kita juga—sesudah mensyukuri dan memuji kebaikan dan kebesaran-Nya—bertindak dan berlaku sebagai insan rahmatan bagi yang lain, seperti raja muda di atas: bagi seluruh insan, bagi seluruh dunia, bagi pekerjaan kita khususnya, bahkan bagi semesta alam. Itulah sebuah makna tentang menjadi insan rahmatan lil alamin.

SUMBER




tinggalkan komentar

Kamis, 17 November 2011

Mencapai Performance Terbaik Dengan Menggunakan Metoda Malcolm Baldridge



Salah satu kerangka kerja untuk mencapai mutu tinggi adalah menggunakan kriteria The Malcolm Baldrige National Quality Award (MBNQA). Sebagai alat penilaian mandiri (selft assessment), kriteria MBNQA membantu mengidentifikasi kekuatan-kekuatan perusahaan, mencari peluang-peluang perusahaan dan mencari peluang bagi perbaikan proses dan hasil yang berdampak kepada stakeholder, pelanggan, karyawan, pemilik (owner), pemasok (supplier), serta masyarakat. Kriteria MBNQA juga membantu dalam hal mengatur sumber daya, antara lain: memperbaiki komunikasi, produktivitas, efektivitas, serta mencapai tujuan-tujuan organisasi.

Kriteria Baldrige sebagai suatu kriteria untuk keunggulan kinerja yang digunakan, telah diadopsi oleh puluhan negara di dunia menjadi National Quality Award negaranya masing-masing. Di Indonesia sendiri, perusahaan yang telah menerapkannya antara lain Sucofindo, Telkom, Pertamina, terlebih setelah diluncurkannya IQA for BUMN (Indonesia Quality Award for Badan Usaha Milik Negara) Republik Indonesia. Dengan mengimplementasikan Malcolm Criteria, organisasi bertekad untuk meningkatkan keunggulan kinerjanya dalam situasi yang semakin kompetitif. Untuk meningkatkan performansinya maka perusahaan harus melakukan pelatihan, sehingga proses penerapannya menjadi tepat sasaran dan sesuai dengan fungsinya.

Teori yang melandasi Malcolm Baldridge

Sistem manajemen kualitas MBPE (Malcolm Baldridge Performance Excellence) diperkenalkan dan diterapkan sebagai guideline bagi perusahaan untuk menjadi perusahaan yang unggul atau excellence dalam era persaingan global ini.

Sistem ini pertama sekali diciptakan oleh US Congress pada tahun 1987 dibawah Public Law 100-107, sebagai penghormatan kepada Malcolm Baldridge, Commerce Department Secretary, yang meninggal dunia pada tahun 1987.

Penghargaan MBNQA (Malcolm Baldridge National Quality Award) diberikan setiap tahun kepada berbagai organisasi dan perusahaan yang diserahkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat. Saat ini MBNQA berada dibawah tanggungjawab the National Institute of Standards and Technology (NIST), Departemen Perdagangan AS. Makalah tentang MBNQA dapat didownload gratis dari http://www.quality.nist.gov.

Ada 7 kriteria yang dinilai dan dijadikan acuan dalam mengelola kinerja perusahaan, yaitu:
(1). Kepemimpinan (Leadership)
(2) Perencanaan Strategis (Strategic Planning)
(3) Fokus pasar dan pelanggan (Market and Customer Focus)
(4) Informasi dan analisis (Information and Analysis)
(5) Fokus sumber daya manusia (Manpower Fokus)
(6) Manajemen Proses (Process Management)
(7) Hasil-hasil bisnis (Business Results)

Berdasarkan peninjauan secara seksama terhadap 20 perusahaan yang memiliki skor tertinggi untuk kriteria MBPE ini, diperoleh kesimpulan bahwa ada 6 faktor kunci yang sangat besar kontribusinya pada peningkatan performa atau keunggulan kinerja perusahaan, yaitu antara lain:
(1) fokus pelanggan,
(2) kepemimpinan manajemen senior,
(3) keterlibatan dan pemberdayaan karyawan,
(4) kultur perusahaan yang terbuka,
(5) pembuatan keputusan berdasarkan fakta, dan
(6) kemitraan dengan pemasok.

Penerapan Metoda malcolm Baldrige

Bagaimana PLN mengorganisasikan penerapan Kriteria Baldrige secara ‘company wide’ untuk menggerakkan perbaikan yang menyeluruh di perusahaan
- Implementasi Malcolm Baldrige secara strategis menjadi salah satu KPI (Key Performance Indicator) Direksi, sebagai indikator komitmen Direksi dalam implementasi MB
- Malcolm Baldrige secara konsisten telah diimplementasikan sejak tahun 2007 di PLN. Dalam pengembangannya telah dilakukan asesment sampai ke tingkat Unit Operasional melalui penerapan PLN Quality Award untuk seluruh Unit.
Bagaimana Kriteria Baldrige mampu menggerakkan kinerja menyeluruh perusahaan dalam konteks menghadapi tantangan bisnis saat ini dan akan datang
- Tantangan bisnis PLN saat ini dan akan datang melalui Program PLN Golden Year 2012 terkait masalah sustainability perusahaan ke depan
- Langkah atau inisiatif strategis PLN adalah melalui 4 (empat) pilar kebijakan strategis: Perangi padam (kecukupan daya), Mengatasi daftar tunggu, Berantas Korupsi, Peningkatan Efisiensi
Lesson learn pengalaman PLN menerapkan Kriteria Baldrige untuk meningkatkan kinerja perusahaan
- Pengalaman MB telah memberikan dampak positif kepada seluruh jajaran PLN dan mampu menginspirasi untuk memunculkan ide kreatif dan inovasi serta langkah-langkah terobosan (breakthrough) dalam meningkatkan kinerja perusahaan


SUMBER




tinggalkan komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites