Jumat, 07 Oktober 2011

TOTAL QUALITY MANAGEMENT



1. KUALITAS DAN MANAJEMEN BIAYA STRATEJIK (STRATEGIC COST MANAGEMENT)
Selama ini dekade terakhir, the CEO pada banyak perusahaan menyadari bahwa strategi yang dipicu oleh piningkatan kualitas dapat mengarahkan pada keunggulan pasar yang signifikan, meningkatkan profitabilitas, dan memberikan kesejahteraan jangka panjang. Perusahaan yang memilih untuk bersaing melalui harga yang rendah bukan berarti memilih untuk memproduksi dengan kualitas yang rendah. Prinsip-prinsip yang mendasari program peningkatan kualitas sebagian besar bertujuan untuk memuaskan kebutuhan pelanggan dan untuk memenuhi harapan pelanggan. Ini juga merupakan tujuan dari rancana stratejuk untuk memperoleh keunggulan kompetitif.
Kualitas juga merupakan hal yang signifikan untuk berbagai alasan lain. Dalam banyak organisasi, beberapa faktor lainnya mempunyai pengaruh yang besar terhadap biaya dan lini dasar. Oleh karena itu, tidaklah mengejutkan jika kecenderungan yang ada sekarang ini adalah mengintegrasikan perencanaan untuk perbaikan kualitas dengan perencanaan stratejik perusahaan.
PIMS Associate, Inc.., menguji lebih dari 1.200 perusahaan untuk menentukan dampak kualitas produk terhadap kinerja perusahaan dan menemukan bahwa :
Kualitas produk dan profitabilitas berhubungan erat.
Bisnis/perusahaan yang menawarkan produk dan jasa dengan kualitas tinggi mempunyai pangsa pasar lebih besar.
Kualitas berhubungan secara positif dengan ‘return on investment’ yang lebih tinggi.
Dengan kualitas tinggi mempunyai beberapa keunggulan kompetitif dan menikmati profitabilitas yang lebih tinggi dan mempunyai ‘return on investment’. Harga yang lebih tinggi dan pangsa pasar yang lebih meningkatkan pendapatan. Tingkat pengembalian yang lebih rendah menurunkan biaya garansi dan biaya perbaikan, ‘throughput time’ yang lebih cepat memungkinkan perusahaan melakukan pengiriman secara lebih tepat. Menghasilkan poduk berkualitas tinggi memungkinkan perusahaan yang bersaing dalam hal diferensiasi untuk menjadi efektif dalam mempertahankan strateginya. Hanya melalui produk yang berkualitas dapat membuat perusahaan benar-benar unggul dalam hal biaya.

2. MANAJEMEN KUALITAS TOTAL (TOTAL QUALITY MANAGEMENT)
Untuk dapat bertahan dan berhasil dalam lingkungan kompetisi global, perusahaan harus menghasilkan produk yang berkualitas dan memberikan pelayanan yang berkualitas. Produk dan jasa yang berkualitas juga meningkatkan keunggulan kompetitif yang dimiliki perusahaan.
Apa yang Dimaksud Kualitas ?
Ada banyak defenisi tentang kualitas, dan orang sering kali memandang kualitas secara berbeda-beda karena ada perbedaan peran dalam rantai produksi-pemasaran-konsumsi dan harapan mereka terhadap produk dan jasa dan dalam harapan mereka terhadap produk dan jasa.
Pengujian akhir terhadap produk atau jasa berkualitas adalah apakah produk tersebut sesuai atau melebhi harapan pelanggan, yang kemudian digunakan sebagai spesifikasi yang digunakan sebagai pedoman dalam beroperasi. Setiap individu, departemen atau subdivisi pada suatu organisasi perlu berjuang keras untuk dapat mencapai kesesuaian dengan spesifikasi yang telah ditentukan sehingga dapat memenuhi dan meningkatkan kepuasan pelanggan.
Harapan terhadap spesifikasi dan kualitas untuk bor yang lebih murah berbeda dengan harapan terhadap spesifikasi dan kualitas untuk bor yang lebih mahal. Bor dengan kekuatan industri dirancang untuk penggunaan yang berat dan dapat digunakan, katakan, selama 100 jam secara terus menerus. Sedangkan bor untuk penggunaan rumah tangga tidak dirancang untuk penggunaan selama terus menerus untuk jangka waktu yang lama dan mempunyai siklus hidup yang lebih pendek, misalnya 10 jam.
Produk dikatakan berkualitas jika sesuai dengan spesifikasi dan sesuai dengan harapan pelanggan. Produk berkualitas jika produk tersebut sesuai atau melebihi harapan pelanggan dengan harga yang kompetitif.
Harapan terhadap jasa juga berbeda. Seorang mekanik melakukan jasa yang berkualitas dengan mengganti oli mobil; yaitu mengeringkan oli mobil, memasang filter oli yang baru, meminyaki chasis mobil dan menambahkan oli baru. Jasa tersebut tetap dikatakan berkualitas, bahkan jika mekanik menggunakan oli biasa, bukan oli khusus yang dapat meningkatkan kinerja mesin. Mekanik dikatakan gagal memberikan jasa yang berkualitas, jika filter oli yang baru rusak pada hari berikutnya karena kesalahan pemasangan yang tidak tepat atau jika pengisian oli dilakukan sebanyak empat atau enam quart, padahal persyaratan dari pembuat mobil, seharusnya diisi oli sebanyak lima quart. Keseuaian dengan spesifikasi menentukan kualitas jasa.
Deskripsi Procter & Gamble tentang ‘total quality management’ menunjukkan bahwa prinsip inti dari TQM adalah proses yang :
Berfokus pada pemuasan pelanggan
Berusaha keras untuk melakukan perbaikan secara terus menerus
melibatkan seluruh kekuatan kerja

Berfokus pada Pelanggan
Pedoman Pengimplementasion TQM
Perusahaan tidak dapat mengimplementasikan program TQM secara sukses dalam satu malam. Perusahaan Jepang membutuhkan lebih dari 20 Tahun untuk melaksanakan pendekatan dan melebihi tingkat kualitas yang dimiliki oleh banyak perusahaan Amerika Serikat. Untuk menjadi perusahaan berkualitas tingkat dunia, membutuhkan keseriusan organisasi dan usaha serta pengorbanan bersama untuk mencapai TQM.
Pengimplementasian TQM bukan merupakan tugas yang mudah dan membutuhkan banyak waktu. The Institute of Management Accountants (IMA) yakin bahwa sebuah organisasi membutuhkan waktu tiga sampai lima tahun untuk berubah dari manajemen tradisional menjadi TQM. Tampaknya, sebagian besar tidak akan memperoleh manfaat nyata pada tahun-tahun pertama implementasi, meskipun beberapa proyek khusus dapat segera menghasilkan hasil yang bermakna.
Gambaran pengalaman pemenang Malcolm Baldrige award untuk perusahaan-perusahaan yang berhasil mengelola kualitas secara efektif. IMA menemukan 11 fase proses tersebut, keterlibatan total dari semua pekerja merupakan hal utama untuk keberhasilan TQM.

Tahun Satu
Membentuk dewan dan staf kualitas
Melaksanakan program pelatihan kualitas eksekutif
Melakukan audit kualitas
Membuat analisis penyimpangan
Mengembangkan rencana perbaikan kualitas stratejik

Tahun Dua
Melaksanakan program pelatihan dan komunikasi karyawaan
Menyusun tim kualitas
Menciptakan sistem pengukuran dan menentukan tujuan

Tahun Tiga
Merevisi sistem kompensasi/penilaian/pengakuan
Meluncurkan inisiatif eksternal dengan para supplier
Melakukan review dan revisi

Membentuk Dewan dan Staf Kualitas
Sebagian besar perusahaan berpendapat bahwa keberhasilan implementasi TQM membutuhkan ketegasan dan kepemimpinan secara aktif dari CEO dan para manajer senior.

Melakukan Program Pelatihan Kualits eksekutif
Fungsi utama dari program ini adalah (1) meningkatkan kepedulian menajemen senior tentang pentingnya fokus dan dukungan secara terus-menerus terhadap perbaikan kualitas, (2) menciptakan pengetahuan umum berdasarkan kualitas total, dan (3) menentukan tahapan dan sasaran/tujuan yang beralasan. Melakukan proram pelatihan kualitas eksekutif juga membantu menghindarkan kesalahpahaman sejalan dengan perkembangan usaha yang dilakukan.
Melakukan Audit Kualitas
Melakukan audit kualitas memungkinkan perusahaan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan perusahaan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan perusahaan, mengembangkan rencana perbaikan kualitas stratejik dalam jangka panjang, dan mengidentifikasi peluang perbaikan kualitas yang mana akan menghasilkan hal terbaik bagi perusahaan, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.

Membuat Analisis Penyimpangan
Meneruskan audit kualitas yang mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan program kualitas perusahaan, analisis penyimpangan mengidentifikasi target peningkatan kualitas dan memberikan data obyektif untuk mengembangkan peningkatan kualitas stratejik.

Mengembangkan Rencana Perbaikan Kualitas Stratejik
Hasil dari analisis penyimpangan dan tujuan untuk perbaikan kualitas menjadi dasar untuk mengembangkan rencana stratejik jangka pendek (satu tahun) dan jangka panjang (tiga atau lima tahun) untuk menentukan prioritas-prioritas dalam perbaikan kualitas.

Melakukan Program Pelatihan dan Komuniksi Karyawan
Program pelatihan karyawan merupakan alat komunikasi untuk menyampaikan komitmen manajemen terhadap kualitas total dan memberikan keahlian pada para karyawan untk mencapai kualitas total.
Menyusun Tim Kualitas
Tim kualias lintas fungsi melibatkan anggota dari berbagai karyawan dan tim manajemen dan unit-unit fungsional. Menjaga usaha perbaikan secara terus menerus dan kekuatan kualitas dalam organisasi dan mengkoordinasikan pekerjaan untuk mengoptimalkan usaha-usaha kualitas, meyakinkan kecukupan daya
Begitu tim kualitas disusun, tim ini menjadi kekuatan utama untuk mncapai kualitas, mengimplementasikan dan memonitor program kualitas dan melakukan perbaikan secara terus menerus (continous improvement). Salah satu fungsi utama tim kualitas adalah melibatkan semua karyawan dalam program kualitas.

Menciptakan Sistem pengukuran dan Menentukan Tujuan
Sistem pengukuran yang baik yang bisa membantu TQM sering kali membutuhkan pengembangan sistem akuntansi yang baru, karena sistem akuntansi tradisional memecah-mecah informasi data kualitas ke dalam rekening-rekening yang banyak sekali.
Sebagai bagian integral dari sistem evaluasi kinerja keuangan perusahaan, sistem akuntansi tradisional dapat menjadi rintangan untuk perbaikan kualitas. Sistem pengukuran yang terpisah juga membantu manajemen kualitas total dengan menambah perhatian pada pengaruh jangka panjang dari pengeluaran untuk kualitas.

Merevisi Sistem Kompensasi / Penilaian / Pengakuan
Struktur penghargaan dan pengakuan yang baik yang dibuat berdasarkan ukuran kualitas dapat menjadi pendorong yang kuat dalam mempromosikan TQM di perusahaan (lihat Bab 20). Usaha dan perkembangan tidak akan banyak diperoleh, jika perusahaan tidak melakukan perubahan dalam sistem kompensasi/penilaian/pengakuan.



Meluncurkan Insiatif Eksternal dengan para Eksternal
Supplier merupakan bagian yang penting dari operasi perusahaan, sama halnya dengan divisi dalam suatu perusahaan. Di antara praktik-praktik pada perusahaan yang menerapkan TQM dengan sukses menggunakan supplier yang berkualitas.
Menurunkan jumlah supplier
Memilih supplier tidak hanya berdasarkan pada harga, kemampuan, kesediaan untuk memperbaiki kualitas, biaya, dan fleksibilitas, tetapi juga dedikasi mereka terhadap perbaikan secara terus menerus (continous improvement)
Menciptakan hubungan jangka panjang dengan para supplier sebagai partner kerja
Melakukan spesifikasi secara tepat tentang harapan supplier dan memastikan konsistensi pengiriman dari supplier

Review dan Revisi
Semua karyawan diarahkan oleh dewan kualitas dan tim kualitas, harus meriew perkembangan kualitas dan menilai kembali usaha perbaikan kualitas minimal setahun sekali.

3. TIPE ConformaSI (tYPES OF CONFORMANCE)
Kesesuaian dengan spesifikasi produk atau jasa yang memenuhi atau melebihi permintaan dan harapan pelanggan/konsumen. Meskipun demikian, ‘conformance’ (kesesuaian) bisa saja berbeda untuk individu atau perusahaan yang satu dengan yang lainnya.

Goalpost Conformance
Kesesuaian dengan spesifikasi kualitas yang diekspresikan sebagai kisar tertentu disekitar target.

Absolute Quality Conformance
Mensyaratkan semua produk atau jasa benar-benar memenuhi ‘target value’ tanpa penyimpangan. Persyaratan untuk ‘absolute conformance’ mensyaratkan semua lembaran logam untuk mempunyai ketebalan 0,5 inchi, bukan 5 inchi ± 0,05 inchi atau bahkan 0,5 inchi ± 0,0005 inchi. Peraga 6-4 menggambarkan “the robust quality conformance approach’.

‘Goalpost Conformance’ atau ‘Absolute Conformance’?
Mengasumsikan bahwa perusahaan tidak megeluarkan biaya kualitas atau biaya kegagalan atau kerugian karena kualitas yang tidak baik jika kualitas berada pada batas-batas tertentu. Perusahaan mengeluarkan biaya kualitas atau memperoleh kerugian jika ukuran kualitas berada di luar betas yang ditentukan. Biaya kualitas, yang tersembunyi atau yang harus segera dikeluarkan, terjadi setiap kali ukuran kualitas menyimpang dari ‘target value’.
Mana yang lebih baik dari ‘goalpost conformance’ atau ‘absolute conformance’? untuk perusahaan yang mempunyai tujuan profitabilitas dan menghasilkan kepuasan pelanggan dalam jangka panjang, maka ‘absolute conformance’ merupakan pendekatan yang lebih baik.

Taguchi Quality Loss Function
Sebelum digunakan dalam pemanufakturan atau pelayanan jasa, pendekatan ini memerlukan perhatian yang lebih banyak pada aktivitas desain dan proses pemanufakturan atau proses operasi untuk membantu dalam pembuatan produk atau pelayanan jasa. Taguchi dan Wu mengakui bahwa setiap peyimpangan dari spesifikasi yang pasti menyebabkan biaya atau kerugian bagi perusahaan.
Contoh-contoh biaya yang berkaitan dengan produk berkualitas rendah atau kegagalan untuk memenuhi ‘absolute conformance’ adalah biaya-biaya perbaikan, biaya perbaikan atau penggantian yang bergaransi, biaya produksi tambahan, dan kerugian akibat sumber daya yang terbuang.
Kerugian kualitas yang tidak tersembunyi meliputi ketidakpuasan pelanggan, kerugian bisnis di masa yang akan datang, hilangnya pangsa pasar, biaya teknis tembahan, biaya mamajemen tambahan dan kelebihan persediaan.

4. Taguchi Loss Function
Bahwa fungsi memberikan perkiraan yang bagus terhadap kerugian-kerugian. Kerugian akan meningkat sebesat dua kali tingkat penyimpangan dari ‘target value’. Gambaran umum dari ‘loss function’, L (x), untuk karakteristik kualitas produk atau jasa dengan nilai observasi sebesar xadalah:
L(x) = k(x-T)2
Dimana: x = Nilai observasi dari karakteristik kualitas
T = ‘Target Value’ dari karakteristik kualitas
k = Koefisien biaya
k merupakan konstanta yang diperkirakan berdasarkan biaya produksi total biaya pelayanan/jasa serta biaya tersembunyi yang berhubungan dengan penyimpangan karakteristik kualitas dari ‘target value’. Nilai k untuk karakteristik kualitas dapat ditentukan dengan menggunakan hubungan ini:


Kerugian Total dan Kerugian Rata-Rata
Kerugian total yang berkaitan dengan karakteristik kualitas untuk semua unit yang diproduksi selama satu periode merupakan jumlah kerugian untuk setiap unit yang menyimpang dari standar.
Kerugian total yang berkaitan dengan penyimpangan kualitas adalah dengan cara mengalikan kerugian rata-rata per unit dengan jumlah unit total yang diproduksi.
Albright dan Roth menunjukkan bahwa kerugian yang diharapkan atau kerugian rata-rata dapat ditentukan dengan menggunakan penyimpangan dan rata-rata penyimpangan dari ‘target value’ sebagai berikut:

Dimana:
EL(x) = Kerugian diharapkan atau kerugian rata-rata untuk karakteristik kualitas x
σ2 = Selisih dengan ‘target value’
D = Penyimpangan nilai rata-rata karakteristik kualitas darti target atau D = x
– ‘target value’
Menggunakan’Quality Loss Function untuk Penentuan Toleransi’
Perusahaan dapat menentukan toleransi sebagai berikut:
$ 300 = $2.000.000 (teloransi)

5. COST OF QUALITY dan LAPORAN BIAYA KUALITAS
Adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan pencegahan pengidentifikasian, perbaikan dan pembetulan produk yang berkualitas rendah, dan dengan ‘opportunity cost’ dari hilangnya waktu produksi dan penjualan sebagai akibat rendahnya kualitas. Secara tradisional, biaya kualitas dibatasi untuk biaya inspeksi dan pengujian produk selesai.
Perusahaan-perusahaan kemudian menemukan bahwa biaya kualitas yang berhubungan dengan fungsi-fungsi pendukung seperti desain produk, pembelian, hubungan masyarakat dan pelayanan kepada pelanggan harus ditambahkan dalam biaya produksi/biaya pengolahan/biaya operasional.

Biaya Pencegahan
Adalah pengeluaran-pengeluaran yang dikeluarkan untuk mencegah terjadinya cacat kulitas. Biaya pencegahan meliputi:
Biaya Pelatihan Kualitas,
Biaya Perencanaan Kualitas
Biaya Pemeliharaan Peralatan
Biaya Penjaminan Supplir

Biaya Penilaian
Data untuk menentukan apakah produk atau jasa sesuai dengan spesifikasinya. Biaya-biaya ini terjadi setelah produksi tetapi sebelum penjualan. Akativitas yang mengeluarkan biaya ini tidak menurunkan kesalahan atau mencegah cacat produksi terulang; aktivitas ini hanya mendeteksi unit sebelum produk tersebut dikirim ke pelanggan. Biaya penilaian meliputi:
Biaya Pengujian dan Inspeksi
Peralatan Pengujian
Audit Kualitas
Pengujian secara laborat
Pengujian dan evaluasi lapangan
Biaya informasi

Biaya Kegagalan Internal
Adalah biaya yang dikeluarkan karena rendahnya kualitas yang ditemukan sejak penilaian awal sampai dengan pengiriman kepada pelanggan. Biaya-biaya ini tidak bernilai tambah dan tidak pernah diperlukan. Beberapa biaya kegagalan internal adalah:
Biaya tindakan koreksi
Biaya pengerjaan kembali (rework) dan biaya sisa produksi (scrap)
Biaya proses
Biaya ekspedisi
Biaya inspeksi dan pengujian ulang

Biaya Kegagalan Eksternal
Biaya kegagalan eksternal merupakan biaya yang terjadi dalam rangka meralat cacat kualitas setelah produk sampai kepada pelanggan, dan laba yang gagal diperoleh karena hilangnya peluang sebagai akibat adanya produk atau jasa yang tidak dapt diterima oleh pelanggan. Biaya-biaya ini meliputi:
Biaya untuk menangani keluhan dan pengembalian dari pelanggan.
Biaya penarikan kembali dan pertanggungjawaban produk
Penjualan yang hilang karena produk yang tidak memuaskan.

Biaya ‘Conformance’ dan ‘Nonconformance’
Biaya pencegahan dan biaya penilaian merupakan Cost of Conformanca. Biaya kegagalan internal dan kegagalan eksternal merupakan ‘Cost Nonconformance’. Biaya-biaya tersebut merupakan biaya yang dikeluarkan dan ‘opportunity cost’ karena ditolaknya produk atau jasa. Biaya kualitas merupakan penjumlahan ‘conformance cost’ dan ‘nonconformance cost’.


MELAPORKAN BIAYA KUALITAS
Meliputi pendefenisian data, mengidentifikasi sumber data, dan menyiapkan serta mendidtribusikan laporan biaya kualitas.

Definisi Data, Sumber Data, dan Pengumpulan Data
Tahap pertama dalam membuat laporan biaya kualitas adalah mendefinisikan biaya kualitas yang ada dalam setiap kategori. Salah satu tahap penting dalam mengidentifikasi biaya kualitas adalah bertanya kepada para pemakai dan penyedia data untuk mengidentifikasi biaya tertentu yang terjadi sebagai akibat rendahnya kualitas.

Laporan Biaya Kualitas
Laporan biaya kualitas akan bermanfaat jika hanya penerima dapat memehami, menerima dan menggunakan isi dari laporan tersebut.

Ilustrasi Laporan Biaya Kualitas
Perusahaan beroperasi dalam lingkungan dan persaingan sangat ketat dan sedang mengalami kenaikan biaya dan tekanan kualitas dari pesaing baru maupun yang sudah ada. Laporan menunjukkan bahwa biaya kegagalan eksternal untuk biaya-biaya seperti klaim garansi, ketidakpuasan pelanggan, dan hilangnya pangsa pasar dibebankan sebesar 75% dari total biaya kualitas pada tahun 0.
Perusahaan mulai dengan menaikkan pengeluaran-pengeluaran untuk pencegahan dan penilaian. Investasi mulai terbayar pada tahun 2. Biaya kegagalan internal, biaya kegagalan eksternal dan biaya kualitas total semua menurun.

MENEMUKAN PERMASALAHAN
Untuk mencapai manajemen kualitas total, perusahaan perlu mengidentifikasikan dan memahami secara benar permasalahan kualitas yang signifikan saat permasalahan itu terjadi.

Bagan Pengendalian
Adalah grafik yang menggambarkan observasi yang berhasil dari operasi dan interval yang konstan. Bagan pengendalian umumnya mempunyai sumbu horisontal yang menunjukkan interval waktu, jumlah batch, atau proses produksi dan sumbu vertikal menyatakan ukuran kesesuaian dengan spesifikasi kualitas tertentu.
Bagan Pengendalian bermanfaat dalam penyusunan pengendalian kualitas secara statistik, memonitor proses, dan mengedentifikasikan penyebab penyimpangan kualitas. Proses mungkin berada di luar kendali, jika observasi menunjukkan trend, siklus, kelompok atau tiba-tiba berubah tidak sesuai garis pusat atau batas-batas yang dapat dikendalikan.

Histogram
Adalah grafik yang menunjukkan frekuensi dari peristiwa-peristiwa yang ada di dalam data.


Diagram Pareto
Adalah histogram dari faktor-faktor yang mempunyai kontribusi terhadap permasalahan kualitas, dibuat mulai dari yang mempunyai frekuensi yang paling banyak sampai dengan yang mempunyai frekuensi yang paling rendah.
Diagram pareto tidak hanya menunjukkan peringkat masalah kualitas secara relatif, tapi juga merupakan alat bantu visual yang bermanfaat.

Brainstorming
Orang Yunani Kuno menggunakan “brainstorming” (tukar pikiran), yang dipopulerkan kembali oleh Alex Osborn pada tahun 1940-an, sebagai cara untuk mendapatkan gagasan dari kelompok orang dalam jangka pendek. Brainstorming dapat mengidentifikasikan permasalahan, menemukan penyebab masalah, dan mengembangkan solusi untuk permasalahan kualitas.
Beberapa aturan dasar untuk melakukan ‘Brainstorming’ yang produktif adalah:
Tidak mengkritik gagasan seseorang melalui kata-kata atau isyarat.
Sekali suatu gagasan dikemukakan, seharusnya tidak didiskusikan lebih lanjut, kecuali untuk klarifikasi.
Tidak gagasan yang keliru atau bodoh.
Setiap anggota tim dapat memperkenalkan satu gagasan saja, tidak ada anggota yang dapat melontarkan lebih dari satu gagasan.
Sampai dengan setiap tim mengajukan gagasan, tidak ada anggota yang boleh meperkenalkan lebih dari satu gagasan.
Tidak boleh ada seseorang yang mendominasi.
Tidak ada tuduhan yang bersifat menyalahkan.

Diagram Sebab-Akibat
Diagram sebab dan akibat, atau Ishikawa mengorganisasikan ranta penyebab dan akibat untuk memilah-milah penyebab dasar dan mengedentifikasi hubungaan antara penyebab atau variabel.
Diagram sebab akibat atau diagram ‘fishbone’ meliputi tulang belakang, iga dan duri. Pada akhir sebelah kanan dari tulang belakang yang horisontal, merupakan permsalahan kualitas yang dihadapi.
Penyebab utama yang khas untuk permalahan kualitas dalam operasi pemanufakturan adalah:
Mesin
Bahan
Metode
Tenaga manusia
Dua jenis diagram sebab akibat yang mendasar adalah analisis dispresi dan klasifikasi proses. Analisis klasifikasi proses mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang mungkin mempunyai kontribusi pada rendahnya kualitas setiap tahap pemrosesan atau alur produksi.

MANAJEMEN KUALITAS TOTAL (‘TOTAL QUAITY MANAGEMENT PADA ORGANISASI JASA’)
Saat membentuk opini tentang perusahaan, tidak ada sesuatupun yang dapat dilakukan, selain hal-hal yang berkaitan dengan karyawannya, jadi opini tentang perusahaan dapat dibentuk dengan melihat segala sesuatu yang berkaitan dengan karyawan perusahaan tersebut. Kita tidak dapat terlalu menekankan pentingnya kualitas dalam organisasi jasa.
Organisasi jasa meliputi perushan-perusahaan yang memberikan jasa untuk menghasilkan pendapatan dan perusahaan yang menyediakan jasa untuk membantu penjualan produk.

KUALITAS TOTAL DAN PRODUKTIVITAS
Konsepsi yang secara umum keliru adalah perbaikan kualitas akan menurunkan produktivitas. Alasan yang mendasari konsepsi yang keliru ini adalah bahwa perbaikan kualitas membutuhkan tambahan usaha. Karena produktivitas mengukur hubungan anyata output dan sumber daya, usaha yang membutuhkan sumber daya tambahan tanpa meningkatkan output menurunkan produktivitas.
Dalam studinya, Leonard dan Sasser mendapatkan banyak contoh bahwa perbaikan kualitas mengarah pada peningkatan produktivitas:
Instalsi ruang baru yang bersih untuk menurunkan kotoran pada ‘printed circuit board’ meningkatkan output hampir 35 persen.
Eliminsi stasiun perbaikan/pengerjaan kembali pada salah satu pabrik televisi memaksa biaya untuk menemukan dan menyelesaikan permasalahan tentang kualitas yang mereka hadapi.
Usaha-usaha untuk melakukan hal yang benar sejak pertama kali dan setiap saat oleh perusahaan meningkatkan tidak hanya produktivitas pemanufakturan, tetapi juga produktivitas penjualan perusahaan.

TANTANGAN MANAJEMEN KUALITAS TOTAL (‘TOTAL QUALIT MANAGEMENT/TQM’) BAGI AKUNTAN MANAJEMEN
Mengumpulkan semua informasi kualitas yang relevan, berpartisipasi secara aktif dalam semua fase program kualitas, dan mereview serta menyebarkan laporan biaya kualitas. Terlalu sering suatu perusahaan memasukkan biaya kualitas dalam rekening berbeda-beda dan tersebar pada produk, pemasaran, teknik dan pelayanan/jasa.
Akuntan manajemen harus dilibatkan secara total dalam aktivitas perbaikan kualitas perushaan. IMA menjelaskan bahwa aktivitas-aktivitas ini melibatkan akuntan manajemen:
Memastikan perwakilan akuntan menajemen pada komisi pengendalian kualitas utama dan tim perbaikan kualitas.
Membuat perusahaan benar-benar sadar terhadap ‘benchmark’ yang kompetitif, celah-celah kompetitif, tingkat perhatian pelanggan, dan biaya kualitas.
Berpartisipasi secara aktif dalam mengidentifikasi daerah-derah yang membutuhkan perbaikan kualitas dan merupakan peluang perbaikan kualitas terbesar.
Mengembangkan ukuran kualitas untuk memonitor dan menilai perkembangan ke arah tujuan kualitas.
Terlibat dalam keputusan penentuan supplier.
Mereview dan mengevaluasi efektivitas penendalian dan nilai-nilai kursus pelatihan untuk personil penendalian kualitas dan staf sumber daya manusia.
Mengumpulkan dan melakukan review secara terus-menerus terhadap sisa produksi dan biaya-biaya perbaikan.
Mereka harus dapat mendesain, menciptakan atau memodifikasi sistem informasi untuk mengukur dan memonitor kualitas dan mengevaluasi perkembangan kualitas total seperti yang diharapkan oleh setiap unit organisasi dan perusahaan secara keseluruhan. Beberapa tugas yang berkaitand dengan hal tersebut di atas adalah:
Menentukan rekening mana yang banyak berisi data untuk TQM
Melakukan reorganisasi dan restrukturisasi pada sistem akuntansi yang ada untuk mendapatkan data biaya kualitas yang lengkap dan akurat
Merevisi bagan rekening untuk mencerminkan setiap kategori biaya kualitas.
Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah menerapkan teknik-tenik dari ‘activity-based costing’ ke dalam TQM sehingga ‘cost driver’ untuk biaya kualitas dapat diidentifikasi dengan jelas.
Isi laporan biaya kualitas dapat sangat bervariasi tergantung pada karakteristik organisasi dan operasinya. Akuntan manajemen perlu untuk meyakinkan bahwa proses pengukuran dan pelaporan memenuhi kriteria berikut ini:
Memenuhi kebutuhan konsumen internal.
Meliputi semua biaya kualitas yang relevan baik yang berupa ukuran keuangan maupun nonkeuangan.
Mengadaptasi ukuran sesuai perubahan kebutuhan.
Sederhana dan mudah digunakan, dilaksanakan dan dimonitor.
Memberikan umpan balik yang cepat dan tepat waktu kepada para pemakai dan para manajer.
Membantu perkembangan, tidak sekedar memonitor.
Memotivasi dan memberikan tantangan bagi anggota tim untuk tetap berusaha keras memperoleh kualitas tertinggi.

Jenis-Jenis Maintenance



Dalam menentukan kebijaksanaan maintenance, umumnya terdapat 2 jenis maintenance, yaitu sebagai berikut.

Planned (preventive) maintenance.
Breakdown (corrective) maintenance

Preventif Maintanance
Kegiatan preventive maintenance bertujuan untuk mengurangi kemungkinan cepat rusak dan kondisi mesin selalu slap pakai. Caranya adalah sebagai berikut.
Patrol/Regular Preventive Maintenance Inspection
Kegiatan maintenance yang dilaksanakan dengan cara memeriksa setiap bagian mesin secara berpatroli dan berurutan sesuai dengan schedule.
Major Overhaul (turun mesin)
Kegiatan maintenance yang dilaksanakan dengan mengadakan pembongkaran menyelurah dan penelitian terhadap mesin, serta melakukan penggantian suku cadang yang sesuai dengan spesifikasinya.
Untuk memudahkan melaksanakan maintenance maka kegiatan maintenance yang dilakukan sebaiknya berdasarkan:
Sistem work order atau work order system merupakan kegiatan maintenance yang dilaksanakan berdasarkan pesanan dari bagian produksi maupun dari bagian-bagian lain.
Check list system merupakan daftar atau schedule yang telah dibuat untuk melakukan kegiatan maintenance dengan cara pemeriksaan terhadap setiap mesin secara berkala.
Rencana kerja triwulan, yaitu kegiatan maintenance yang dilaksanakan berdasarkan pengalaman atau berdasarkan catatan sejarah mesin, misalnya kapan suatu mesin harus dirawat atau diperbaiki.
Work order atau Surat perintah memuat tentang:
apa yang harus dikedakan;
siapa yang menger akandanbertanggungjawab,
alat-alat yang dibutuhkan serta macamnya;
waktu yang dibutuhkan untuk menger akan pekedaan pemeliharaan tersebut dan kapan waktu penyelesaiannya.
Preventive maintenance bertujuan agar hal-hal berikut terjamin.
a) Keamanan mesin dan operator (tenaga maintenance).
b) Kelancaran mesin.
c) Mutu produksi.
d) Kebersihan mesin dan lingkungan sekitarnya.
Keempat hal tersebut bermuara pada mutu produk yang primer sesuai rencana.
a. Keamanan Mesin dan Operator (nnaga Maintenance)
Untuk setiap mesin yang terdapat di dalam pabrik sudah ada ketentuan mengenai karakteristik mesin tersebut.
Misalnya: temperatur air, angin, dan oli tidak boleh melebihi standar yang sudah ditentukan. Untuk operator harus memperhatikan alat-alat pengaman yang terdapat di dalam setiap mesin

b. Kelancaran Mesin
Pemberian minyak pelumas secara teratur dan pemeriksaan mesin sert4 peralatannya secara berkala, bertujuan agar dapat menj aga kelancaran mesin sehingga proses produksi dapat ber alan lancar.
Untuk setiap mesin yang ada sudah dipasang suatu alai kontrol untuk mengetahui keadaan minyak pelumas harus ditambah. Penggantian minyak pelumas dilakukan berdasarkan j am kerja mesin atau hasil analisis minyak
di laboratorium

c. Mutu Produksi
Menjaga mutu produksi bertujuan untuk selalu dapat memenuhi standar mutu utama dengan menekan tingkat kerusakan produk serendah mungkin. Hal ini dilakukan dengan cara mempertahankan tingkat produktivitas kerja dan selalu memenuhi spesifikasi kerja yang telah ditentukan serta ketelitian dan kecermatan yang didukung oleh tekad dan kemauan kerja yang tinggi. Untuk mencapai mutu produksi tersebut bagian maintenance akan menjaga agar pabrik tetap dapat beroperasi secara efisien dengan menghindari (mengurangi) hambatan sekecil mungkin sehingga produk dapat diserahkan kepada langganan tepat pada waktunya (delivery date yang tepat). Untuk setiap mesin dibuat suatu hasil persentase kerusakan. Misalnya, untuk kerusakan produk di bagianfinishing adalah 10% dari 60% yang ditargetkan
(sasaran).

d. Kebersihan Mesin dan Lingkungan Sekitarnya
Lantai sekitar mesin harus bersih dari lumuran minyak yang berlebihan pada waktu melaksanakan pelumasan serta dari sampah yang berserakan. Hal ini untuk menghindari tedadinya kecelakaan bagi pekeda (operator) serta menciptakan kenyamanan bekerja. Kebersihan mesin dijaga dengan cara membersihkan mesin tersebut serta diadakan
pengecatan kembali.
Dalam melaksanakan kegiatan maintenance, bila perlu ada penambahan jam ker a. Biasanya penambahan jam ker a dilakukan pads hari Minggu serta hari-hari libur lain yang dikenal dengan overtime.
Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Minggu (libur), yaitu preventive maintenance, yakni kegiatan berikut ini.
Pelumasan atau penggantian oli.
Perbaikan terencana.
Penggantian spare part (suku cadang).
Pembongkaran serta penelitian mesin.
Pada hari kerja, kegiatan preventive maintenance dan breakdown (cor­rective) maintenance dilaksanakan dengan porsi sebagai berikut.
80% roting dan breakdown maintenance.
20% preventive maintenance.
Untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan preventive maintenance dibuat suatu jadwal sebagai berikut.
a) Mendistribusikan kegiatan secara merata dalam skala waktunya dengan memperhatikan frekuensi kegiatan.
b) Menggunakan check list dengan instruksinya untuk dipakai sebagai pedoman oleh petugas maintenance, serta untuk keseragaman pelaksanaan dan pengecekan.
c) Perawatan pencegahan dilakukan tepat waktu, kecuali mesin sedang diperbaiki karena kerusakan atau sedang dibongkar (overhaul).
d) Perawatan pencegahan dilakukan menurut jadwal tertentu, yaitu hal-hal kecil yang tidak mengganggu jadwal produksi.
Contoh: Perawatan pencegahan (preventive maintenance) untuk mesin Banbury, dikepada check list yang memuat instruksi, sebagai berikut.
· Periksa kondisi dan kebocoran dust stop searing.
· Periksa kebocoran Racin Hyd. Unit.
· Periksa bolt-bolt door top and lacth cyl.
· Periksa Mc. Cord lubricator pump.
· Periksa kebocoran angin pada ram packing dan line pipa-pipa angin.
· Periksa kebocoran pada line pipa pendingin.
· Batch off mill, periksa kondisi mill knife dan kebocoran angin.
· Periksa kondisi roll-roll, pillow block bearling, convbelt, gearbox, coupling, sprocket, dan rantai pads: loading, scale, charging, crooss over conveyor.
· Periksa panborn traverse motor blower, drive chain, steel cable, mo­tor coupling screw.

MANAJEMEN PRODUKSI BERBASIS TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)



A. KESESUAIAN KUALITAS PRODUK DALAM MANAJEMEN PRODUKSI
Sebelum membahas subsistem informasi manajemen produksi, hendaknya dipahami terlebih dahulu tentang ruang lingkup manajemen produksi atau kegiatan produksi dalam suatu. perusahaan.
Dalam suatu perusahaan yang memproduksi barang atau jasa, terjadi suatu proses kegiatan yang berkaitan sau sama lain, yakni sebagai berikut.
Kegiatan pengadaan bahan baku yang harus selalu tersedia dengan cukup.
Kegiatan pelaksanaan produksi yang meliputi penyiapan mesin untuk memproses bahan baku, penyiapan tenaga kerja yang akan melakukan produksi (operator mesin), serta penyiapan segala fasilitas produksi lain seperti siap pakai tenaga listrik, air, dan sebagainya.
Kegiatan menyimpan hasil produksi dan produk setengah jadi sehingga aliran bahan (material handling) dalam perusahaan dapat beijalan lancar.
Kegiatan Pengendalian Mutu secara Terpadu (Total Quality Manage­ment).
Secara urutan proses dan kegiatan produksi dapat digambarkan seperti berikut.
Untuk menjamin kelancaran proses produksi diperlukan tersedianya input, yakni faktor produksi berupa:
Bahan baku,
Tenaga kerja,
Mesin,
Tenaga listrik,. dan sebagainya.

Kekurangan salah satu factor produksi dapat mengganggu proses produksi. Artinya, proses produksi dapat terganggu kelaricarannya bila salah satu faktor produksi tersebut mengalami kekurangan.
Lalu bagaimana caranya untuk mencegah terjadinya kekurangan salah satu faktor produksi tersebut?
Caranya adalah memantau tersedianya faktor produksi dari waktu ke waktu. Adapun cara pemantauan adalah dengan mencatat setiap proses dan besarnya persediaan masing-masing faktor produksi tersebut.
Misalnya, bahan baku perlu dikendalikan dengan cara mengadministrasikan dalam buku bahan baku. Artinya, saldo bahan baku selalu diawasi dengan cara mencatat setiap saat keluar masuknya bahan baku.
Demikian pula jumlah dan keadaan tenaga kerja harus selalu dipantau agar selalu tersedia tenaga kerja yang siap mendukung proses produksi. Caranya, tiap tenaga kerja mempunyai kartu kerja yang memuat secara rinci tentang tanggal, jam, serta lama kerja dari setiap pegawai.
Mesin-mesin dan seluruh fasilitas produksi dipantau kondisinya. Tiap mesin mempunyai kartu yang memuat tanggal, jam, dan lamanya mesin melakukan suatu pekerjaan dan siapa yang menjadi operator mesin tersebut, kapan sebuah mesin rusak, diperbaiki, dan seterusnya.
Kegiatan pengendalian berbagai faktor produksi tersebut adalah suatu kegiatan yang berkaitan dengan sistem informasi manajemen di bidang produksi. Data tentang berbagai fasilitas produksi di dalam suatu perusahaan sangat berguna bagi manajemen produksi untuk mengambil keputusan.

B. SUBSISTEM INFORMASI PRODUKSI DAN KENDALI MUTU PRODUK TERPADU
Secara umum manajemen produksi meliputi kegiatan untuk menghasilkan barang atau jasa secara tepat, baik jenis, mutu, jumlah, maupun waktunya dengan biaya yang minimum. Dalam rangka memenuhi tugas manajemen produksi seperti disebutkan di atas, SIM produksi berperan untuk memberikan informasi berbagai fasilitas produksi secara benar, lengkap, dan tepat waktu sehingga pimpinan perusahaan dapat mengambil langkah-langkah yang efektif dalam upaya melaksanakan proses produksi. Dalam hubungan ini, ketepatan langkah (deci­sion making) dalam manajemen produksi dapat berhasil bila memperhatikan key result area (faktor kunci keberhasilan) dalam pengelolaan produksi yang berkaitan erat dengan kendali mutu. produk. Adapun faktor kunci keberhasilan dalam bidang produksi meliputi hal-hal berikut.
Jenis produk
Apakah jenis barang yang dihasilkan bermutu baik telah sesuai dengan desain dan spesifikasi yang telah direncanakan dan sesuai dengan permintaan pasar?
Misalnya, dalam suatu pabrik roti, bila sebelumnya direncanakan membuat roti tawar bukan roti manis.
Demikian pula dalam pabrik mobil, bila direncanakan membuat model X, hasilnya harus mobil X.

Mutu barang
Apakah mutu barang yang dihasilkan baik, bila cara pembuatan dan bahan baku yang digunakan juga baik? Berdasarkan contoh di atas, roti tawar yang baik dapat dibuat bila proses pembuatan dan terigu yang dipakai dari mutu yang baik. Khususnya dalam perusahaan yang bekerja berdasarkan job order, tiap pelaksanaan pembuatan suatu pesanan secara rinci ditulis dalam kartu kerja yang dipegang oleh tiap operator atau pekerja, termasuk di dalamnya mutu bahan baku, cara pembuatannya, dan sebagainya lengkap tertulis dalam job ordersheet tersebut.

Jumlah barang
Apakah jumlah produksi barang sesuai dengan permintaan? Misalnya pabrik pesawat terbang IPTN di Bandung selalu bekerja atas dasar pesanan (job order). Bila perkiraan pesanan helikopter jenis Y berjumlah 10 buah per tahun maka IPTN harus membuat sejumlah pesanan tersebut, yakni 10 buah helikopter jenis Y.

Waktu penyelesaian
Apakah waktu penyelesaian sesuai dengan kontrak antara konsumen (langganan) dengan perusahaan. Dalam hal ini, perusahaan penerima pesanan harus benar-benar menghitung waktu kerja sebuah pesanan. Misalnya, IPTN menjanjikan kepada konsumen bahwa pesanan helikopter selesai dalam waktu 400 hari setelah pedanjian maka IPTN harus menepati janji tersebut. Bila tidak, IPTN akan kena denda atau bahkan mungkin dituntut secara hukum. Hal ini jelas harus dihindarkan.

Biaya
Apakah biaya produksi telah mencapai tingkat efisiensi yang memadai? Perusahaan yang mempunyai biaya produksi paling efisien adalah perusahaan yang mempunyai daya saing yang tinggi sehingga mampu mengalahkan saingan. Misalnya harus diupayakan cara kerja yang efisien tetapi hasil produksinya tetap terjaga mutunya. Hindari apa yang disebut high cost economy alias boros.

Kesejahteraan buruh
Apakah kegairahan dan keselamatan kerja telah terjamin? Berbagai perusahaan termasuk perusahaan manufaktur disyaratkan menyediakan fasilitas keselamatan kerja yang baik untuk melindungi pekerja. Apabila hal ini dilaksanakan disertai dengan usaha menciptakan kegairahan kerja yang baik maka poduktivitas pekerja diharapkan dapat makin tinggi.
Bertitik tolak pada key result area maka diperlukan informasi-informasi yang erat hubungannya dengan faktor penentu keberhasilan proses produksi tersebut. Faktor keberhasilan dalam proses produksi antara lain ditentukan oleh hal-hal berikut.

a. Jenis barang
Barang-barang yang diproduksi seyogyanya harus barang-barang yang sesuai dengan permintaan konsumen, baik desain maupun spesifikasi tiap barang yang dihasilkan. Kita ketahui bahwa selera masyarakat selalu berubah, di mana selera konsumen cenderung senang menggunakan barang yang lebih baik, dengan desain yang lebih menarik. Dalam hal ini, perusahaan harus selalu mengamati kemungkinan terjadinya perubahan selera konsumen. Artinya, perusahaan harus selalu memonitor informasi tentang jenis serta bentuk barang yang diminta masyarakat (konsumen) dari waktu ke waktu. Usaha menyesuaikan jenis dan spesifikasi hasil produksi dengan perubahan permintaan konsumen adalah usaha untuk memperluas daerah pasarannya. Kenaikan luas pasar, berarti volume penjualan meningkat yang berpengaruh terhadap meningkatnya penghasilan perusahaan.

b. Mutu barang
Mutu barang tergantung pads beberapa faktor berikut:
Mutu bahan baku,
Bahan pembantu,
Bahan kemasan,
Jenis, dan sifat­sifat komponen dari produk.
Proses pembuatan yang dilakukan harus sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Dalam pelaksanaan produksi terdapat kemungkinan-­kemungkinan penyimpangan dari standar sehingga perlu diadakan pengendalian mutu barang, agar kerugian dapat dihindarkan akibat barang tidak laku di pasaran.
Ketepatan proses pembuatan barang. Cepat, tetapi hasilnya baik, merupakan kiat keberhasilan usaha.
Kondisi lingkungan yang memengaruhi proses, misalnya suhu, kelembaban, debu, dan sebagainya. Hal ini telah ditemukan teknologi baru, walaupun teknologi ini perlu dibeli dengan harga yang tinggi.
Mesin yang digunakan harus sesuai dengan yang ditentukan. Hal ini menyangkut spesifikasi peralatan, keadaan mesin yang digunakan, serta cara penyimpanan bahan, barang setengah jadi, dan barang jadi. Jika hal ini dijalankan sesuai dengan standar dan rencana maka produksi yang dihasilkannya pun terjaga mutunya.
Faktor-faktor lain yang memengaruhi mutu barang adalah:
Keterampilan dan cara kerja buruh,
Kelelahan buruh,
Kegairahan kerja,
Lingkungan kerja (penerangan dan ventilasi),
Perlengkapan kerja, dan sebagainya.
Hal ini perlu diperhatikan, sebab bila tidak, hasil kerja mereka bisa tidak sesuai dengan yang direncanakan.

C. Jumlah barang yang dihasilkan
Jumlah barang yang dihasilkan dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut.
Jumlah bahan yang digunakan harus sesuai dengan yang diperlukan. Artinya, di sini dapat dianalisis antara actual dan standard material, yakni membandingkan penggunaan bahan yang sebenarnya dengan rencana penggunaan bahan yang ditentukan. Hal yang ingin dicapai di sini adalah menghindarkan terjadinya pemborosan penggunaan bahan.
Waste yang terjadi dan yang diperhitungkan. Dalam hal ini perlu dikaji mengapa besarnya bahan sisa di luar dugaan. Apa faktor penyebabnya?
Rejects barang yang under quality, yakni barang apkir karena mutunya jauh di bawah standar atau barang tersebut rusak sehingga tidak layak dijual. Diharapkan jumlah barang yang rusak tidak banyak, karena hal ini merupakan pemborosan.
Kehilangan karena pencurian. Cara penyimpanan dalam gudang yang masih kurang baik, dan sebagainya harus dihindarkan. Artinya, manajemen dari aset dalam perusahaan perlu dilakukan dengan baik.

(d) Ketepatan waktu penyelesaian barang (delivery date)
Ketepatan waktu penyelesaian barang ditentukan oleh faktor-faktor berikut.
Persediaan harus dijaga jangan sampai kehabisan bahan. Dalam hal ini, manajemen atau pengendalian bahan-bahan sangat perlu dilaksanakan secara mantap. Dalam hal ini pula, Anda telah mengetahui cara-cara perhitungan Economic Order Quantity, menghitung safety stock, dan sebagainya.
Jadwal produksi dipengaruhi ketepatan ramalan penjualan atau perkiraan order produksi yang pads akhirnya memengaruhi waktu penyerahan (delivery date).
Pengaturan jadwal tenaga kerja sangat memengaruhi kelancaran rencana kerja. Bila jadwal produksi jelek, berarti suatu pesanan bias tertunda. Misalkan buruh A sedang mengerjakan pekerjaan pesanan tuan X dari tanggal 25 sampai dengan 31 Desember, tetapi pads tanggal 26 Desember telah dijadwalkan pula untuk mengerjakan pekedaan tuan Y. Mana mungkin? Hal semacam ini dapat mengganggu pesanan tuan X maupun Y.
Laporan penyerahan barang dan laporan barang-barang yang belum diserahkan. Dalam hal ini, kekeliruan membuat laporan tersebut bisa mengganggu suatu pekedaan sehingga pekerjaan lain tertunda. Selain itu, dapat mengecewakan pihak pemesan, jika barang pesanannya belum selesai pada tanggal penyerahan.
Keterampilan, cara kerja, dan peralatan kerja yang memadai akan memengaruhi kecepatan dan ketepatan penyelesaian suatu peker aan.
Proses produksi yang dilakukan harus sesuai dengan jenis pesanan. Artinya, proses yang remit karena barangnya kompleks, memerlukan waktu yang panj ang.
Faktor-faktor penghambat lainnya misalnya, hambatan mungkin dilakukan para pekerja, kerusakan mesin, listrik padam, dan sebagainya.

(e) Informasi biaya
Dipengaruhi oleh penghitungan yang berhubungan dengan hal-hal berikut.
Faktor-faktor ekonomis dari lokasi dan layout dari pabrik.
Jumlah, harga, dan mutu bahan yg diperlukan dan yang tersedia.
Mesin yang dapat digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Bila jumlah dan jenis mesin yang dimiliki banyak sekali maka tiap mesin harus mempunyai kartu-kartu tersendiri untuk memudahkan pengaturannya.
Tenaga kerja yang dikerahkan harus berdasarkan jumlah tenaga kerja minimum yang dibutuhkan. Bila buruh yang dipekerjakan lebih banyak dari kebutuhan, berarti inefficiency (tidak efisien).
Down time dan idle time, yakni waktu yang harus disediakan sebelum mesin bisa dioperasikan dan kemungkinan terjadinya waktu menganggur dari mesin tersebut. Waktu menganggur dapat memengaruhi biaya.
Capacity utilization, yakni kapasitas terpasang dari mesin-mesin yang ada. Mesin yang terpasang secara penuh bisa menyebabkan biaya per unit barang lebih rendah.
Waktu pengerjaan, artinya makin lama waktu pengerjaannya, makin besar biayanya.
Laporan biaya overhead, yakni semua unsur biaya tidak langsung yang menyangkut penyelesaian suatu pekedaan. Biaya ini pun harus dihitung secara cermat.
Cara kerja, artinya cara kerja yang sistematis dan baik memengaruhi
besar kecilnya biaya produksi. Makin baik dan sistematis cars kerja, operasi produksi menjadi makin efisien.
Waste and rejects, meliputi bahan sisa dan barang apkir. Makin sedikit bahan sisa dan barang apkir, berarti makin efisien. Bahan sisa yang berlebihan atau adanya produksi yang apkir karena sesuatu hal (misalnya mesin bekeda tidak akurat) dapat mendorong biaya produksi menjadi naik.
Status persediaan dalam proses produksi, yakni barang dalam proses (work in process) perlu dicatat secara cermat untuk menghindari terlalu banyaknya bahan work in process yang terjadi. Makin banyak barang yang work in process, berarti biaya gudang menjadi tidak efisien.


(f) Informasi tentang buruh
Meliputi informasi sebagai berikut.
Absensi, yakni kadar hadir dari para pekerja.
Keselamatankerja, meliputi semua fasilitas untuk keselamatan kerja buruh.
Keresahan buruh (bila ada). Informasi ini penting sebab dapat memengaruhi produktivitas kerja.
Kondisi kerja, yakni lingkungan kerja yang meliputi terciptanya kenyamanan kerja.
Terlalu banyak lembur atau tidak. Informasi ini harus lengkap karena menyangkut efisiensi kerja.
Prestasi kerja dan kemungkinan peningkatan prestasi para pekerja.

C. ASPEK ADMINISTRATIF DAN KESESUAIAN MUTU PRODUK
Selain dari penjelasan di atas, perusahaan kerap menghadapi kesulitan dalam rangka menyusun sistem informasi produksi, yakni sebagai berikut.
Kemampuan membuat laporan; laporan yang baik adalah laporan yang jelas dan terinci.
Keengganan orang-orang produksi untuk mengerjakan paperworks (laporan kemajuan suatu pekerjaan) akan menyangkut pengendalian proses produksi.
Prosedur administrasi produksi yang tidak mencukupi atau terlalu berbelit­belit sehingga tidak efisien.
Terlalu banyak data yang disampaikan atau harus dilaporkan, atau bahkan sebaliknya kekurangan data. Keadaan ini sangat tidak menguntungkan perusahaan.
Tanpa management support. Dukungan dari atasan sangat berpengaruh atas berhasilnya suatu kegiatan. Artinya, tanpa dukungan pihak atasan maka pembentukan SIM di bidang manajemen produksi sulit berhasil mendukung operasi perusahaan.
Informasi produksi yang baik meliputi hal-hal sebagai berikut:
· berisi informasi yang penting saja (highlight);
· analisis yang jelas dan rinci;
· teratur dan tepat waktu;
· teliti;
· bentuk formulir sederhana, tetapi lengkap;
· exception report menentukan hal-hal yang bersifat pengecualian.

Mengapa perlu informasi produksi?
Alasan utamanya adalah bahwa:
bagian terbesar kekayaan perusahaan ditanam di sektor produksi;
poduksi merupakan titik awal pelayanan pasar;
mutu produk harus sesuai (conformance) dengan perubahan selera. konsumen.

D. ALATANALISIS
Data yang diperoleh di bidang manajemen produksi umumnya data kuantitatif yang harus diolah menjadi informasi. Sehubungan dengan itu kita telah mengenal berbagai alat analisis kuantitatif sebagai berikut.
(a) Alat optimisasi dalam manajemen produksi adalah:
Linear programming yang meliputi teori distribusi atau transportasi, metode simpleks, dan sebagainya.
Network planning, misalnya CPM (Critical Path Method) dan PERT (Program Evaluation and Review Technique).
Economic Order Quantity atau Economic Lot Size.
Queuing Model (waiting line).
(b) Alat untuk menentukan ramalan produksi berdasarkan ramalan penjualan, antara lain adalah sebagai berikut.
Analisis trend berdasarkan least square.
Moving Average.
Catatan: Bagi yang berminat mengetahui Linear Programming, dipersilakan untuk mempelajarinya pada buku berjudul Manajemen Produksi dan Operasi oleh Suyadi Prawirosentono, Penerbit Bumi Aksara.
Alat-alat analisis kuantitatif tersebut merupakan alat analisis mutakhir yang memungkinkan operasi perusahaan berjalan pada tingkat efisiensi yang opti­mal. Perlu Anda ketahui bahwa berbagai alat optimasi tersebut, saat ini sudah tersedia dalam bentuk paket program komputer (software)

E. SUBSISTEM INFORMASI DAN SUPERVISOR MUTU PRODUK
Dari berbagai penjelasan tentang SIM produksi seperti dijelaskan di atas, Anda tentunya bertanya: Apakah segala hal tentang SIM produksi yang rinci seperti dikemukakan di atas perlu ditangani oleh seorang supervisor? Tentu saja tidak, kalau kita ingat bahwa ruang lingkup seorang supervisor di bidang produksi hanya berkaitan dengan pengendalian persediaan (inventory control) dan pengendalian mutu (quality control). Supervisor mutu produk ini merupakan anggota quality circle atau lingkaran mutu.
a. Di bidang pengendalian persediaan
Bila Anda ingat kembali pada materi tentang pengendalian persediaan, Anda dapat menentukan data apa saja yang perlu dikelola dalam rangka tugas pengendalian persediaan, yakni pencatatan data lain persediaan bahan baku dan bahan baku penolong hares dipantau dari waktu ke waktu agar proses produksi berjalan lancar.
b. Di bidang pengendalian mutu
Kembali Anda perlu melihat tugas seorang supervisor sebagai pengendali mutu produk secara statistik (statistical quality control) maka Anda perlu selalu mencatat data tentang hasil pengamatan unit kerja pengendalian mutu secara fisik.
Berdasarkan catatan data tersebut, Anda dapat melaksanakan analisis pengendalian mutu produksi.
Selain itu, karena proses produksi dalam suatu perusahaan manufaktur dipengaruhi oleh kegiatan perawatan (maintenance) mesin dan alat produksi lain maka dalam materi ini akan dijelaskan tentang perawatan fasilitas produksi.

F. PERAWATAN PERALATAN DAN KENDALI MUTU PRODUK TERPADU
Suatu perencanaan produksi dapat gagal bila ada bagian mesin yang rusak atau tidak dapat beroperasi. Oleh karena itu, perencanaan perawatan (maintenance) mesin merupakan salah satu kegiatan penting dalam operasi perusahaan manufaktur. Di samping itu, mesin yang selalu dirawat (maintain) akan mengurangi variasi (penyimpangan) produk.
Dalam upaya mencapai efektivitas pemeliharaan mesin dan seluruh fasilitas produksi secara optimum maka kegiatan maintenance dipilah menjadi 5 kegiatan pokok, yakni sebagai berikut.
(a) Mechanical maintenance (pemeliharaan mesin) adalah kegiatan pemeliharaan mesin-mesin dengan cars pemeriksaan, pelumasan penyesuaian, serta reparasi atas kerusakan-kerusakan yang terjadi Electrical maintenance (pemeliharaan listrik) adalah kegiatan pemeliharaan alat-alat listrik, seperti generator, motor controller, storage batteries and charges, transformer, single/three phase AC, induction motor, dan lain‑lain.
(c) Instrument maintenance (pemeliharaan instrumen) adalah kegiatan pemeliharaan alat-alat ukur, seperti alat suhu pengontrol, alat pengukur getaran, dan sebagainya.
(d) Electric power maintenance (pemeliharaan pembangkit listrik) adalah kegiatan pemeliharaan pembangkit tenaga listrik, seperti diesel queset, air compressor, inert gas generator, water treatment, dan sebagain melaksanakan perbaikan-perbaikan atas kerusakan mesin-mesin yang ada, tetapi jugs melaksanakan kegiatan-kegiatan modifikasi (perubahan) mesin, membuat mesin dan suku cadang, serta mengubah layout mesin-mesin, peralatan produksi, dan tenaga ked a yang ada di dalam pabrik.

G TENAGA MEKANIK DALAM MAINTENANCE
Tenaga perawatan (maintenance) berfungsi melaksanakan pekerjaan sebagai, berikut:
menyetel mesin agar kembali berjalan normal;
memberikan minyak pelumas;
memeriksa keadaan mesin;
memperbaiki kerusakan mesin dan fasilitas produksi lainnya;
mengadakan modifikasi atau perubahan terhadap mesin;
mengadakan pembongkaran mesin serta melakukan percobaan atas mesin baru serta melakukan penelitian terhadap pengembangan mesin tersebut.
Dalam melaksanakan kegiatan maintenance tersebut, tiap petugas, berpedoman pada:
buku petunjuk mesin;
pengalaman atas mesin-mesin terdahulu;
informasi dari pabrik pembuat mesin tersebut.
Ketiga hal tersebut berkaitan erat dengan upaya mencapai mutu produk, yang direncanakan.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites