Selasa, 29 November 2011

Earn More. Spend Less. And Give More.



Berapa income yang mestinya kita peroleh agar bisa melakoni hidup dengan penuh rasa tentram, gemah ripah loh jinawi? Perhitungan nya disini
, membawa kita pada angka 16 juta rupiah per bulan. Wah lumayan tinggi juga ya.

Benar, angka itu jauh lebih tinggi dibanding UMR kota Jakarta yang hanya 1,5 juta per bulan. Mengapa segitu tinggi? Pan katanya mau hidup lumayan tentram?

Eniwei, hidup di kota-kota besar rasanya memang kian mahal. Harga rumah sepetak di pinggiran kota Bekasi sudah mencapai 250 juta rupiah. Hanya dengan mendapatkan segenggam nafkah yang memadai, kita mungkin baru bisa membangun biduk rumah tangga yang sejahtera.

Dan persis disitulah, kita dikenalkan dengan 3 kredo atau prinsip utama perencanaan keuangan yang mak nyus. Tiga kredo magis itu berbunyi : Earn more. Spend less. And Give More. Mari kita menghampirinya satu per satu.

Kredo # 1 : EARN MORE. Tak ada orang yang mau pendapatan atau income-nya stagnan dari tahun ke tahun. Kita ingin nafkah yang kita raih selalu bisa tumbuh, bisa growing.

Kalau kita bekerja sebagai karyawan, harapannya kita bisa terus mengembangkan karir dan mengalami peningkatan pendapatan secara memadai. Syukur-syukur setiap tahun dapat bonus gede .Kalau ternyata karir dan pendapatan kita melaju pelan di jalur lambat (dan sudah begitu, suka macet di tengah jalan) ya ndak usah ngomel dan menyalahkan pihak lain. Cukup lakukan introspeksi dan kemudian terus melakoni self improvement. Di-campur dengan bumbu positive mindset, insya Allah rezeki yang renyah akan juga datang menyapa. Just believe in your positive future.

Kalau Anda bekerja sebagai entrepreneur, tak ada yang lebih indah untuk melihat omzet penjualan meningkat setiap tahun. Bagi kaum pebisnis, sales revenue memang sebuah magic thing. Kalau bisa omzet naik 20 % setiap tahun, syukur bisa double or even triple. Just remember this : Impossible is nothing.

Kredo # 2 : SPEND LESS. Kredo yang kedua ini ingin selalu mengajak kita untuk bertamasya dalam jalan hidup penuh kebersahajaan. Sebutan kerennya “gaya hidup minimalis”. Maksudnya kita selalu mencoba membeli sesuatu yang memang benar-benar kita butuhkan; dan bukan sekedar memburu prestise dan gengsi. Kita selalu mengelak untuk tergelincir pada gaya hidup konsumtif yang boros dan sarat dengan hedonisme. Menjadi snob (sok tampil keren meski pendapatan pas-pasan).

Spend less juga berarti kita bijak dalam mengelola keuangan kita. Kartu kredit yang tidak perlu sebaiknya segera kita gunting. Alokasi pendapatan untuk kredit macam-macam (kredit sepeda motor, kredit rumah, kredit AC, kredit kompor gas, kredit mesin cuci) sebaiknya tidak lebih dari 30% total pendapatan (kalau lebih, lha kan nanti gaji kita semua habis untuk bayar kredit).

Pendapatan yang terus meningkat, disertai dengan gaya hidup yang bersahaja niscaya akan menghantarkan kita pada hidup sejahtera nan elok. Apalagi jika dua hal itu dikombinasikan dengan kredo ketiga berikut ini.

Kredo # 3 : GIVE MORE. Sedekah adalah kunci yang akan membuka pintu rezeki dari tujuh penjuru langit. Begitu kalimat indah yang selalu ingin kita dekap dengan penuh kesungguhan.

Salah satu ilmuwan financial behavior dari Amerika penasaran dengan kalimat itu : apakah memang benar orang yang dermawan itu akan cenderung lebih makmur dibanding yang pelit? Begitulah, melalui riset yang melibatkan ribuan responden dan dengan uji statistik yang mendalam, ia mencoba menguji korelasinya.

Temuannya layak disimak : secara statistik, memang sikap kedermawanan punya korelasi kuat dengan tingkat kemakmuran. Dan ini yang penting : kebiasaan untuk memberi (give more) menjadi SEBAB kenapa orang itu makin makmur.

Temuan lain dari riset itu juga layak dicatat : orang yang suka sedekah cenderung akan lebih happy, PASTI lebih kaya, dan lebih produktif dalam hidupnya (dibanding orang yang jarang berbagi kekayaan). Really interesting.

Begitulah, tiga prinsip utama atau kredo yang layak di-genggam erat jika kita mau meraih the ultimate financial freedom.

Sambil bersulang teh atau kopi hangat yang kini ada di meja Anda, mari kita bersama-sama membaca tiga kredo ini dengan sepenuh sukma : EARN more. SPEND less. GIVE more.

Jangan dibalik menjadi : Earn less. Spend more. Give nothing. Kalau begini, wah cilaka dong. Semangat, semangat.

SUMBER



tinggalkan komentar

Minggu, 27 November 2011

Mengubah yang "Nakal" menjadi Potensil



Menangani karyawan "nakal" bisa jadi tidaklah mudah, yang perlu disadari adalah bahwa setiap orang memiliki kelebihan, termasuk karyawan yang "nakal" tersebut, pastilah karyawan itu memiliki kelebihan dan jika digali maka dapat diarahkan untuk kepentingan perusahaan.

Memberikan kesempatan untuk melakukan sesuatu bisa membantu karyawan bermasalah untuk berprestasi, jangan hanya diberikan sanksi dan peringatan saja, bahkan jika pihak perusahaan sudah tidak mau pusing maka di PHK saja. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengubah karyawan "nakal" :

1. Lakukan pendekatan personal, cari tahu mengapa yang bersangkutan melakukan kesalahan tersebut, kemudian carikan solusinya, jangan hanya memberikan kritik. Sebab bisa saja karyawan tersebut menjadi "nakal" karena selama ini merasa kurang diperhatikan atau kurang diberi apresiasi, berikan juga motivasi dan counselling

2. Berikan kesempatan, bisa saja karena selama ini dianggap kurang mampu maka karyawan bersangkutan membuat ulah, tetapi jika diberikan kesempatan atau tanggung jawab maka karyawan tersebut dapat menunjukkan prestasinya.

3. Berilah kesan bahwa karyawan "nakal" tersebut pasti memiliki potensi yang jika digali akan sangat berguna bagi perusahaan. Sehingga HR dapat membantu menggali kelebihannya.

4. Dapat dilakukan mutasi, bisa jadi yang bersangkutan kurang cocok dibidang yang saat ini dipegangnya sehingga jika dimutasi ke tempat yang tepat maka karyawan tersebut dapat menunjukkan kemampuannya. Edukasi kepada karyawan bermasalah tidak selalu diikutkan pada pelatihan, bisa jadi mutasi menjadi tantangan baru untuk menunjukkan kemampuannya.

Karyawan bermasalah juga dapat disebabkan karena yang bersangkutan adalah karyawan lama yang jenjang karirnya tidak ada kenaikan sehingga merasa mentok jadi membuat ulah, coba diberikan kesempatan dimutasi dengan diberikan kenaikan jabatan, hal tersebut dapat menjadi tantangan baru.

Jika langkah-langkah tersebut telah dicoba dan ternyata masih saja tidak mengubah karyawan "nakal" tersebut maka dapat dilakukan tindakan demosi atau penurunan jabatan.

SUMBER





tinggalkan komentar

Facing Your Challenge!



Sebagai seorang pemimpin, mungkin anda sedang berada di sebuah dunia yang penuh masalah, berantakan, sensitif, penuh keramaian dan sulit diatur. Semuanya ini seringkali membuat seorang pemimpin rasanya seperti mau pecah kepalanya. Memusingkan dan sangat membuat anda tertekan. Bahkan ada yang berakhir dengan bunuh diri. Ketika seorang pemimpin mengakhiri kepemimpinannya dengan bunuh diri maka itu merupakan bukti bahwa ia memang bukan pemimpin yang baik.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menghadapi dan bahkan mengatasi tantangan yang dihadapinya dan keluar sebagai pemenang. Walau seberat apapun, seorang pemimpin tidak mengenal kata menyerah. Pantang menyerah merupakan suatu karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Teori kepemimpinan akhir-akhir ini menekankan pada kreativitas seorang pemimpin. Seperti pepatah kuno mengatakan “Banyak jalan menuju Roma” maka demikianlah seorang pemimpin. Tidak ada kata “TIDAK BISA”, “TIDAK MAMPU”, “TIDAK SANGGUP”. Selama kita mau menggunakan pikiran kita maka pasti selalu ada jalan. Selama ada komunikasi dan hubungan yang baik dengan orang-orang yang kita pimpin, maka mereka juga adalah team yang akan selalu siap membantu memecahkan masalah secara bersama-sama. Jadi cobalah lagi untuk memecahkan masalah Anda dengan cara-cara yang kreatif. Berkali-kali mencoba dan gagal tidak berarti bahwa saat berikutnya mencoba pasti gagal lagi bukan?

Berikut ini adalah kutipan dari pakar leadership:
“The only guarantee for failure is to stop trying” John C. Maxwell

Hal berikutnya yang penting adalah jangan terfokus pada masalah, anda akan sangat pusing dibuatnya. Melainkan fokuslah pada visi dan misi yang harus anda kerjakan. Fokuslah pada hasil akhir yang akan peroleh setelah melewati masalah. Masalah tidak akan selesai jika anda terus memandangnya, masalah hanya akan selesai jika anda dengan jelas terus memandang kepada visi dan apa yang menjadi komitmen anda saat terpilih sebagai pemimpin. Pandangan kepada visi akan membuat pikiran anda tetap jernih saat menghadapi masalah dan hanya tersenyum saat tantangan datang. Karena anda menyadari bahwa untuk dapat masuk ke dalam visi anda, justru masalah dapat menjadi batu loncatan kesuksesan. Seorang pemimpin yang mampu melewati masa kritis dalam kepemimpinannya dan terus mencapai visinya akan dikenang sebagai orang yang tangguh.

“To lead the orchestra, you have to turn your back on the crowd.” Max Lucado
Ungkapan Max Lucado ini benar, hanya ada rasa tegang atau bahkan rasa takut saat menghadapi keramaian jika anda adalah seorang pemimpin orkestra. Berbalik dan fokus pada misi anda untuk memimpin team orkestra anda dan akan keluar musik yang indah yang dikagumi semua orang.

SUMBER




tinggalkan komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites